Metaglobalnews.com – Tragedi mengerikan terjadi di Jalan alternatif dari arah Bagan menuju kawasan Muka Kuning, Kelurahan Tanjung Piayu, Kecamatan Sei Beduk, Kota Batam. Seorang pria berusia 69 tahun, Hasan Basri Tarigan, mengalami luka berat dan pendarahan di otak setelah terjungkal dari sepeda motor Honda Vario yang dikendarainya, Jumat (25/9/2026) malam.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Korban diketahui terjungkal di atas jalan baru yang sedang dalam tahap semenisasi dan menunggu proses pengaspalan.

Memang apes baginya, di tengah jalan yang gelap gulita tersebut terdapat potongan pipa bekas gardu PLN dengan ketinggian sekitar 20 sentimeter yang tidak diberi marka atau rambu peringatan.

Kejadian yang berlangsung sekitar pukul 20:00 WIB ini sontak menjadi tontonan warga sekitar. Motor yang dikendarai korban dilaporkan menabrak potongan pipa tersebut, membuat pria itu terjungkal di atas permukaan jalan yang kasar sejauh kurang lebih 5 meter.

“Ini jalan baru disemenisasi yang nantinya akan diaspal. Kami lihat ada orang jatuh malam itu, sampai terseret. Ini kurasa akibat adanya pipa milik PLN yang tingginya 20 cm di tengah jalan,” ujar seorang warga setempat saat dikonfirmasi, Minggu (27/9/2026).

Warga juga menyebut bahwa kondisi jalan tersebut sangat minim penerangan jalan umum (PJU). Selain itu, tidak adanya rambu peringatan atau water barrier dari pihak pelaksana proyek yang membuat pengendara tidak bisa mengantisipasi kondisi jalan yang berlubang dan terhalang material sisa proyek.

Warga bahkan menyebutkan bahwa titik rawan ini sudah menelan dua hingga tiga korban kecelakaan sebelumnya.

Mendapat laporan dari warga, pihak kepolisian yang tiba di lokasi segera memberikan pertolongan pertama dan mengevakuasi korban ke RS Camatha Sahidya yang berada di kawasan Panbil.

Korban tiba di rumah sakit sekitar satu jam pasca kejadian. Namun, hasil pemeriksaan awal di ruang UGD menunjukkan korban mengalami benturan keras di bagian kepala yang menyebabkan gumpalan darah (pembekuan darah) di otak.

Hingga saat dievakuasi, korban belum sadarkan diri. Karena RS Camatha Saidiya tidak memiliki fasilitas dan alat untuk bedah saraf, pihak rumah sakit segera membuat surat rujukan ke RS Budi Kemuliaan.

Korban akhirnya tiba di RS Budi Kemuliaan pada Sabtu pagi (26/9/2026). Tim dokter ahli bedah saraf segera mengambil tindakan untuk mengeluarkan gumpalan darah di otak korban.

Insiden ini menjadi duka dan kemarahan keluarga korban. Robin Bukit (42) yang mengaku cucu dari korban, dengan tegas meminta pertanggungjawaban atas kelalaian pihak pelaksana proyek semenisasi dan sisa material pipa milik PLN yang dibiarkan membahayakan nyawa pengguna jalan.

Sementara itu, Meta Tobing, anak angkat korban baru mengetahui musibah tersebut pada Sabtu (26/9/2026) pukul 12:30 WIB. Ia mendapat kabar dari Robin saat mencoba menghubungi korban.

“Saya kaget mendengar kabar itu. Jumat semalam sore, kami masih berkabar dan beliau baik-baik saja. Saya kaget sekali,” ucap Meta dengan nada sedih.

Di tengah keterkejutannya, Meta membulatkan tekad untuk terus mendampingi korban. Ia juga memohon agar tim medis di RS Budi Kemuliaan dapat memberikan penanganan terbaik.

“Semoga bapak Hasan baik-baik saja dalam perawatannya. Saya juga meminta pihak RS Budi Kemuliaan dapat menangani bapak Hasan dengan penuh ikhlas dan kasih sayang,” tutup Meta.***red