Metaglobalnews.com – Di tengah krisis air bersih yang melanda sejumlah kecamatan di Kota Batam, pemandangan ironis justru kembali terlihat di kawasan perbelanjaan Nagoya Hill, Nagoya.
Berdasarkan pantauan awak media pada Minggu (30/08) sekitar pukul 14.00 WIB, lori tangki air bersih hilir mudik keluar masuk kawasan tersebut secara mulus dan memprioritaskan pengisian air untuk kebutuhan komersial, sementara warga yang membutuhkan air bersih justru kesulitan mendapatkannya.
Lori tangki roda enam milik ABH terlihat mengisi tampungan air di area menuju parkir atas Nagoya Hill.
Pengisian dilakukan menggunakan selang berdiameter 3 inci sepanjang 50 meter dengan aliran penuh.
Kegiatan ini berlangsung berjam-jam, diperkirakan hingga sampai pukul 23.00 WIB malam dengan total volume air yang diangkut mencapai ratusan ton, bahkan disebut-sebut bisa mencapai 200 ton per hari.
Saat diwawancarai, salah satu supir lori tangki mengakui bahwa pengiriman air saat ini sebatas di seputaran Kota Batam.
“Kita pengantaran seputar kota saja. Berat di minyak mobil kalau jauh. Per ton harga 250 ribu. Muatan saya 1 tangki 9 ton,” ungkap supir secara terbuka.
Kondisi saat ini terbalik ke warga sekitar yang benar membutuhkan air bersih. Di saat warga harus berdesak-desakan dan mengeluarkan biaya tinggi demi air, pasokan air justru lebih diutamakan untuk kebutuhan komersial dengan harga yang tergolong fantastis.
Seorang petugas Air Batam Hilir (ABH) yang meminta identitasnya dirahasiakan, memberikan penegasan yang sangat penting terkait hal ini.
Menurutnya, armada mitra ABH seharusnya mengutamakan kebutuhan warga, bukan pihak swasta.
“Kami mengutamakan kebutuhan air bersih ke rumah warga yang terdampak berhenti karena adanya perbaikan pipa. Namun, jika ada mobil tangki mitra ABH menghantarkan ke pihak swasta atau komersial dengan cara jual dari Damkar BP Batam, itu tidak diperbolehkan,” tegas petugas tersebut.
Lebih jauh, petugas itu menjelaskan bahwa setiap armada mitra ABH hanya diperbolehkan mengantarkan maksimal 5 ton air ke suatu lokasi, dan hal itu pun harus sudah dikoordinasikan dengan pihak Kelurahan di wilayah yang terdampak kekeringan air.
Warga diminta untuk memastikan nomor plat kendaraan yang mengangkut air bersih apakah tercantum dalam daftar resmi 4 BPK di Batam, yaitu BPK Tanjung Uncang, Batu Aji, Sei Panas, dan Batu Ampar.
Muncul dugaan kuat bahwa air bersih milik publik (masyarakat_red) justru diperjualbelikan secara tidak resmi kepada pihak swasta dengan harga tinggi, sementara warga yang membutuhkan DIABAIKAN.
Seharusnya di masa krisis, pemerintah dan pihak terkait membuka mata lebar-lebar dan memastikan air bersih didistribusikan secara adil kepada masyarakat, bukan menjadi ladang CUAN keuntungan bagi pihak tertentu.
Hingga berita ini diturunkan, awak media telah berupaya meminta klarifikasi kepada Direktur Utama Air Batam Hilir (ABH), Yuni Supriyanto, namun belum mendapatkan tanggapan.
Awak media ini berharap pihak berwenang memberikan penjelasan yang bijak dan berimbang agar masyarakat tidak tertipu atas dugaan ulah oknum pejabat atau pegawai orang dalam yang menjual air bersih milik pemerintah tanpa prosedur resmi.
Jika terbukti, pihak ABH melakukan penjualan air bersih tanpa izin dan prosedur harus ditindak tegas, ditangkap, dan dipenjarakan sebagaimana peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Awak media ini juga meminta klarifikasi, penjelasan yang bijak agar berita dapat berimbang supaya masyarakat tidak tertipu atas ulah pejabat atau pegawai orang dalam dari pihak ABH sendiri. Jika terbukti atas penjualan air bersih tanpa prosedural yang resmi harus di tangkap dan di penjarakan. ***(mt).


