Metaglobalnews.com – Krisis air bersih yang melanda sejumlah kecamatan di Kota Batam memunculkan deretan kejanggalan serius. Badan Usaha Sistem Penyediaan Air Minum (BU SPAM) BP Batam selaku pemilik aset dan pengatur kebijakan, serta PT Air Batam Hilir (ABH) selaku operator, diminta segera mengevaluasi kinerja pihak ketiga yang ditugaskan menjalankan penyaluran air bersih di lapangan.
Kecurigaan bermula saat awak media mendapati kejanggalan terkait sumber air yang diklaim oleh pihak ketiga atau subkontraktor pengadaan air bersih.
Salah satu pelaku usaha yang mengaku bernama Soleh menyebutkan, pasokan air bersih yang didistribusikannya berasal dari kawasan Bengkong serta aliran parit di Sei Temiang.
Pengakuan itu disampaikan melalui pesan WhatsApp dan sambungan telepon kepada awak media.
“Kami bawa dari mata kucing atau dari Bengkong, kalau untuk hotel atau Mall, Bu. Lalu kadang kami disuruh lembur ketika permintaan banyak dari warga. Nanti saya tunjukin pengambilan dari Sungai Mata Kucing dan dari Bengkong, Ibu,” ujar Soleh pada, Selasa (01/09).
Namun, penelusuran awak media di lokasi yang diklaim justru memunculkan keraguan besar.
Warga di kawasan Bengkong secara tegas membantah adanya aktivitas pengambilan air oleh lori bertanda stiker ABH di wilayah tersebut.
“Tidak ada lori stiker ABH mengambil air di sini. Kami saja kekurangan air, kok mereka ngambil ke sini. Tidak ada itu,” ungkap warga Bengkong yang tak ingin namanya dimuat di media.
Awak media juga melakukan investigasi langsung ke lokasi yang ditunjukkan Soleh, namun kenyataannya berbanding terbalik.
Di titik yang disebut sebagai sumber air, kondisi aliran justru terlihat kosong dan tak layak dijadikan sumber pasokan air bersih.
Ketika ditegaskan kembali, Soleh justru mengarahkan awak media ke lokasi lain, namun hingga kini dua lokasi yang disampaikan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Kecurigaan semakin menguat ketika awak media memantau lori tangki berstiker ABH justru terlihat kerap mengisi dan menyalurkan air ke kawasan perbelanjaan Nagoya Hill, sebuah pusat komersial yang tetap mendapat pasokan air dengan cepat dan lancar, di saat warga sekitar masih kesulitan mendapatkan air bersih.
Durasi pengantaran yang disebut sangat cepat dan harga yang dipatok pun menjadi pertanyaan besar, padahal jika sumber air benar-benar berasal dari lokasi yang diklaim Soleh, proses pengambilan hingga pengiriman membutuhkan waktu minimal satu jam bahkan bisa hingga tiga hingga empat jam sekali perjalanan.
Hal ini menimbulkan pertanyaan besar. Dari mana sebenarnya air yang didistribusikan itu berasal. Dan mengapa pusat komersial justru mendapat prioritas di tengah krisis air yang melanda masyarakat.
Sebagai pemilik aset dan penyedia infrastruktur, BU SPAM BP Batam wajib memastikan bahwa pihak ketiga atau subkontraktor yang ditunjuk oleh PT ABH bekerja sesuai prosedur dan sumber air yang jelas serta layak.
Di saat air menjadi kebutuhan paling mendesak bagi masyarakat, penyaluran air harus diprioritaskan untuk warga, bukan justru dialihkan ke tempat-tempat yang mampu membayar lebih mahal.
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad melalui BU SPAM BP Batam diminta segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja PT ABH serta seluruh pihak ketiga yang terlibat dalam penyaluran air bersih.
Dugaan pemalsuan sumber air, prioritas penyaluran yang tidak pada tempatnya, serta ketidakjelasan pengelolaan pasokan air harus segera ditindaklanjuti dengan pengecekan dan audit yang transparan.
Guna menjaga keseimbangan berita, awak media telah meminta klarifikasi kepada Direktur Utama PT ABH serta pihak BU SPAM BP Batam agar memberikan penjelasan yang akurat, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat Batam. Disamping itu pula, masyarakat disini berhak tahu, dari mana sebenarnya air yang mereka andalkan berasal. ***(tim //red)


